Lagi dan lagi tak pernah terselesaikan selalu dan tak pernah berhenti. Tersedih saat ini setiap pertengkaran yang terjadi dirumah ini. Pertengkaran karena hal yang sepele atas kesalahpahaman dan tidak pernah mau mendengarkan penjelasan, yang akhirnya hanya menjadi kesedihan batin yang terdalam. Ketika suara itu, amarah yang sangat keji, sehingga terlontar perkataan yang membuat hati ini hancur tak berbentuk lagi. Siapa anak yang tak menangis tersedu kala itu. Berusaha untuk menjadi yang bukan dirinya, mengikuti arah yang mereka inginkan, mengikuti segala yang diinginkan. Dia hanya menginginkan kebahagian mereka, walaupun terkadang akan sangat sulit menjadi pribadi seperti dia. siapa yang tak menangis kala mereka tak menginginkan kehadirannya, terucap sangat amat terdalam dari lidah yang indah itu. Menangislah, tak ada harapan hidup yang membangkitkan semangat jiwanya, terlalu pedih rasa ini, bertahun tahun merasakan derita yang tak tau ini sampai kapan berakhir.
Dia merelakan kehilangan apa yang pernah dicita-citakan sewaktu iya remaja. Dimana kal itu dia sudah menemukan kebahagiaan atas angan dan harapan yang menjadikan nya semangat. Sekalipun, mereka melarangnya, dia tak pernah henti untuk terus memperjuangkan apa yang dia cita-citakan. Melawan, membantah, menjadikannya durhaka yang sering dia lakukan. Sedikitpun tak pernah merasa menyerah, dia tetap memperjuangkan apa yang dicita-citakan, walaupun begitu dia tetap menangis tanpa mengeluarkan suara yang membuat mereka tak pernah tau betapa malangnya dia, remaja yang bercita-cita tinggi akan tetapi tak pernah bisa membuat mereka bangga akannya.
Pernah sekali, saat dia benar-benar lelah dan meninggalkan rumah untuk menenangkan sejenak hati yang sudah tak berbentuk ini. Dia berfikir tak akan ada yang mencarinya karena mereka tak pernah memperdulikan nya. Bahkan yang menjadi alasan yang sangat menyedihkan ketika dia mengatakan "mereka gak menginginkan gua ada, untuk apa gua masih ada, untuk menjadi pelampiasan amarah aja". Untung saja dia memiliki teman yang sangat menyayanginya, yang selalu menguatkan, bahkan teman dia bisa membuatnya tertawa kala itu dia sedang menangis mereka yang tak menginginkanya kehadirannya. Dugaan yang salah tak ada yang mencari dia ketika dia pergi jauh dari rumah.HP berdering kian tak henti karena Telfon dan sms yang masuk waktu itu. Sentak semakin kejar tangisan ketika membuka sebuah pesan singkat dari mereka. Beginikah caranya mereka merayu untuknya kembali pulang? kata-kata yang tak pernah dilupkannya kala itu mereka menyebutnya sebuah binatang yang bernajis. Semakin larut semakin membuatnya lelah menangis.
Dia sudah tumbuh dewasa, sudah bukan lagi remaja yang durhaka, dia mulai berfikir tentang bagaimana memberikan yang terbaik untuk mereka, walaupun dia tak pernah lupa perlakuan yang sering mereka lakukan kepadanya. yang membuat hatinya tak berbentuk. Beranjak dewasa, cita-cita yang didambakan hanya bertahan sampai dia memakai seragam putih abu. Kini sudah bukan lagi masanya membahagiakan diri sendiri. Dia mencoba untuk memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk mereka. Dia pun mulai memasuki masa menjadi seorang mahasiswa. Sebelumnya, dia sudah mempertimbangkan pilihan jurusan yang akan diambilnya, dia pun mempertimbangkan perasaan mereka yang tak menyukai cita-cita sewaktu dia remaja. Mungkin ini memang sudah jalannya, dia pun diterima di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang sudah dipertimbangkannya.
Belajar dan selalu belajar untuk kebahagiaan mereka. Tak pernah sering merasakan kala dia sedang mendapatkan banyak tugas. Dia tak pernah mengeluh atas apa yang sedang dia alami, untuk memperjuangkan segalanya. Dia hanya ingin dimengerti, betapa lelahnya menjadi dia yang bukan dia sebenarnya
Apa masih kurang dia berkorban melupakan cita-cita yang dia dambakan untuk menjadi seorang bercita-cita yang bukan menjadi mereka.
Ketika nanti sudah menjadi orang hebat, Kan kubanggakan kalian didepan rumunan orang banyak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar