Bagaimana mungkin memaksa menjadi yang lain, tahukah rasanya hancur saat harus mengikuti arah ini, tersiksa dengan segala penderitaan yang seharusnya tidak dirasakan, menjadi serbasalah ketika disekitar hanya bisa memaksa mencela memaki. tahukah rasanya menjadi seperti ini, menjadi yang tak diinginkan, menjadi yang disalahkan, menjadi bahan perbincangan yang tak sewajarnya? ketika itupun hanya terdiam dan tersenyum. Membayangkan kebahagiaan yang menurutnya adalah kehancuran atas segalanya.
Waktupun terus berjalan, tidaklah lagi menjadi anak dengan banyak sekali permainan dan waktu luang bersama teman-teman, kini semua sudah menjadi dewasa dengan banyak sekali masalah yang tak pernah berhenti sejenak untuk bernafas. Kala ini kebingungan terus menghampiri, mengikuti arah dengan segala kebatinan yang mendesak dan tak berujung atau melawan arah tanpa kebatinan dan tak berujung pula. Yang tersulit kini sedang terjadi. Berpasrah dan berserah, semua sudah ada yang mengatur dan mempercayakan semuanya padanya. Yang terbaik akan menemukan arah berujung senyuman. Semua terbalaskan diakhir, cacian, hinaan, makian, olokan, segala yang menghancurkan hati, dan segala yang membuat air mata jatuh bersamaan dengan suara tersedu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar